MURID SIDIQ DAN GURU YANG POKOK ANGGUR YANG BENAR

Pepatah Minangkabau “Bagi seorang Murid yang Sidiq, carilah Guru yang Mursyid. Bagi Guru yang Mursyid, carilah Murid Yang Sidiq

(Mursyid artinya baik dan pokok anggur yang benar yang bisa diikuti karena ajarannya benar, mengikuti para pendahulunya)

(Sidiq artinya murid yang baik, taat pada gurunya, sopan pada gurunya dan mengemban amanah gurunya)

Nah, dua philosophy dari Shihan Silvester tentang pepatah Minangkabau di atas bisa di jelaskan dengan dua kisah yang pernah saya dengar dari Shihan Silvester Sebastian. Dua kisah ini sangat bagus, akan sangat mendidik kita menjadi seorang murid yang sidiq dan mendidik kita jadi seorang guru/instruktur yang baik di dojo tempat kita membangun Kyokushin Karate Dojo.

A. MURID YANG SIDIQ ITU SEPERTI YUDISTIRA YANG BERGURU KE PENDETA DURNA

Cerita Shihan

Gambar

Dalam kisah pewayangan Palguna dan Palgunadi, Pendeta Durna mempunyai dua orang Murid dalam memanah, Yudistira dan Arjuna. Pendeta Durna lebih kasih dan sayang ke Arjuna, tetapi Yudistira tetap hormat, respect dan kasih ke Gurunya.

Yudistira tidak memperdulikan sikap gurunya yang “Mban Cinde Mban Siladan” (tidak adil) kepada dirinya, Yudistira tidak memperdulikan sikap tidak seimbang kasih sayang gurunya kepada dirinya, Yudistira juga tidak “meri”  (iri) kepada Arjuna karena sayang Gurunya lebih besar ke Arjuna daripada ke dirinya.

Gambar

Apapun sikap Gurunya yang kurang fair kepada dirinya, tapi Yudistira tetap mempertahankan hormat, sopan santun, kelembutan, kasih sayang, taat, “sendika ing dawuh” kepada Gurunya dan loyal kepada Gurunya.

Saking rindu dan hormat kepada Gurunya yang walau memperlakukannya tidak adil kepada dirinya itu, Yudistira membuat Patung yang menyerupai Gurunya, kemudian Yudistira berlatih memanah di depan Patung Gurunya itu.  

Gambar

JADI MURID KYOKUSHIN KARATE, JADILAH MURID SEKELAS YUDISTIRA.

B. GURU/SENPAI/SENSAI/INSTRUKTUR YANG MURSYID (BAIK) ITU SEPERTI PENDETA ZEN

Cerita Shihan Tentang Pendeta Zen “Penyerdehanaan Pikiran

Pendeta Zen dan muridnya sedang melakukan perjalanan keluar kota, ketika tiba di suatu tepian sungai yang airnya dalam, maka mereka melihat seorang gadis yang sangat cantik yang kebingungan karena ingin menyebrang sungai itu tapi tidak mampu karena tidak bisa berenang dan takut basah.

Gambar

Akhirnya Pendeta Zen tadi mengangkat gadis yang sangat cantik tadi di pundaknya dan membawanya menyebrang sungai yang dalam tadi. Si Murid pendeta Zen tadi menggerutu berulang kali akan ulah Guru Pendeta Zennya itu, “Kenapa mengangkat perempuan cantik di pundaknya?”, “Kenapa harus bersikap merendahkan sikap sebagai Pendeta Zen?”, “Kenapa harus bersikap begitu, kenapa merendahkan diri…huh “.

Gambar

Demikianlah Pendeta Zen yang mengangkat gadis yang sangat cantik itu kemudian menyebrang sungai, dan setelah sampai di tepian sungai berikutnya, Pendeta Zen itu meletakkan gadis yang sangat cantik itu di tepian sungai. Setelah itu Pendeta Zen meneruskan perjalanannya menuju ke Kuilnya.

Disepanjang perjalanan, sang murid menggerutu terus dan bergejolak dalam hatinya akan perilaku Pendeta Zen tua itu, mengerutu terus menerus hingga jiwanya tidak tenang dan mukanya cemberut. Pendeta Zen memperhatikan sikap muridnya itu, tapi hanya diam dengan penuh kesabaran.

Gambar

Sesampainya di Dojo Kuil Zen mereka, maka Pendeta Zen kemudian membersihkan diri di air sungai kecil di belakang Kuil, sedangkan Sang Murid merebahkan diri di kamarnya dengan terus menggerutu dan bergejolak jiwanya dengan dada berombak-ombak marah atas sikap Guru Pendeta Zennya itu.

Kemudian tibalah mereka duduk bersama-sama dalam ruangan makan untuk menikmati santap malam, tentunya Pendeta Zen dengan kelembutan wajahnya menikmati hidangan makan malam itu, sesekali memperhatikan sikap dan raut wajah Sang Murid yang terus cemberut dan tidak bersahabat.

Gambar

Adakah yang ingin Engkau sampaikan hai Sang Murid kepada Gurumu yang tua ini “ Tanya Sang Pendeta Zen kepada Sang Muridnya yang sedang cemberut itu.

Ya Guru, ampuni saya, kenapa Guru tadi mengangkat Gadis yang sangat cantik tadi di pundak Guru, bukankah itu perilaku yang kurang sopan, dan tidak mencerminkan sikap sebagai seorang Pendeta Zen” jawab Sang Murid dengan menahan gejolak dalam dadanya yang akan meledak akan perilaku Pendeta Zen itu.

Wahai muridku, Gadis yang sangat cantik tadi sudah saya letakkan dan saya turunkan serta saya tinggalkan di tepian Sungai tadi. Tetapi kenapa engkau masih menggendongnya sampai sekarang ? Jawab Pendeta Zen tadi dengan kelembutan.

Sang Murid benar-benar terhenyak akan kekeliruannya. Benar kata Guru Pendeta Zennya, pikirannya kalang kabut, dadanya bergejolak seperti gelombang di lautan lepas dan hatinya tidak tenang karena Sang Murid itu selalu “menggendong” semua permasalahannya dan tidak cepat meletakkannya.

Shihan berkata “ Zen itu penyerderhanaan pikiran.

Jika ingin jadi Pelatih, selalulah “menyerderhanakan pikiran”, melayani murid itu saja. Melatih murid itu saja dan member ilmu murid itu saja. Tidak usah dipikir apa murid hormat sama kita, tidak usah dipikir kita ditinggalkan murid, tidak usah dipikir murid jarang masuk dan tidak usah dipikir apapun sikap murid kepada kita.

Berbuat saja, melayani saja dan berjuang saja. Yang lainnya tidak usah dipikir dan digendong di pikiran kita. Prilaku murid apapun kepada kita, jangan sampai kita terusik dan menyerah. Berbuat saja dalam pelayanan itu saja. Tidak perlu dongkol pada murid yang dogol.

Pelayanan yang murni tanpa memperhatikan apapun. PENYERDERHANAAN PIKIRAN.

Sukses selalu kita semua jika kita jadi Murid seperti Yudistira dan menjadi Instruktur seperti Pendeta Zen.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s